Kemandirian yang Saya Pelajari dari Dapur Pesantren
"Di rumah semua dilayani asisten. Di pesantren saya harus cuci piring sendiri. Ternyata itulah pelajaran paling berharga."
Saya anak orang berada. Di rumah ada asisten yang mengurus semua kebutuhan. Ketika pertama kali tiba di pesantren dan tahu harus antri cuci piring sendiri, jujur saya menangis dan ingin pulang.
Tapi itulah titik balik terbesar dalam hidup saya.
Di pesantren, semua santri sama. Tidak ada yang lebih istimewa karena ayahnya pengusaha atau ibunya pejabat. Semua antri di kran yang sama, makan di tempat yang sama, tidur di kamar yang sama. Kesetaraan itu mengajarkan saya tentang manusia yang sesungguhnya.
Enam tahun di pesantren membentuk saya menjadi perempuan yang mandiri, tangguh, dan—yang paling penting—memiliki kepekaan sosial yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Sekarang saya mengelola rumah tangga dan bisnis sendiri dengan penuh percaya diri.
Terimakasih, Pesantren Qurrota A'yun. Kamu mengajarkan saya bahwa hidup yang bermartabat bukan tentang dilayani, melainkan tentang melayani.