Juara Pidato Arab Nasional: Buah dari Kesabaran
"Dua kali gagal, berkali-kali menangis latihan tengah malam. Akhirnya juara satu pidato bahasa Arab tingkat nasional."
Pertama kali ikut lomba pidato bahasa Arab, saya gugur di babak penyisihan. Kedua kalinya, saya kalah di semifinal. Tangisan dan frustrasi sempat membuat saya ingin menyerah.
Tapi Ustadzah Khoiriyyah tidak mengizinkan saya menyerah. Setiap malam setelah shalat Isya, beliau menemani saya latihan di kelas. Mengkoreksi makhroj, memperhalus intonasi, memperbaiki gestur. Kadang kami baru selesai jam 11 malam.
"Bahasa Arab itu bukan sekadar kata-kata," kata Ustadzah. "Ia adalah ruh yang harus kamu rasakan dalam hati sebelum disampaikan ke telinga orang lain."
Enam bulan intensif. Di ajang Musabaqah Pidato Bahasa Arab tingkat nasional di Jakarta, nama saya dipanggil sebagai juara pertama putri. Saya tidak percaya. Saya menelepon Umi, menangis bersama di ujung telepon.
Pelajaran terbesar saya: kegagalan bukan akhir, ia adalah bahan bakar. Dan seorang guru yang percaya kepada kita lebih dari kita percaya pada diri sendiri—itu segalanya.