Dari Santri Nakal Menjadi Pengurus OSIS
"Saya masuk pesantren karena "dibuang" orang tua yang sudah putus asa. Tiga tahun kemudian, saya memimpin organisasi santri."
Jujur, saya masuk pesantren bukan karena keinginan sendiri. Orang tua sudah frustrasi—nilai di sekolah hancur, sering bolos, bergaul dengan teman yang tidak baik. Pesantren adalah "hukuman" terakhir mereka.
Bulan pertama saya sempat kabur dua kali. Tapi setiap kali saya kabur, Pak Kyai tidak pernah marah. Beliau hanya bertanya dengan lembut: "Apa yang membuatmu tidak betah, Nak?" Pertanyaan itu membekukan saya lebih dari amarah.
Perlahan saya mulai membuka diri. Seorang musyrif (pembimbing) senior yang bernama Kak Irfan mengajak saya bergabung di tim redaksi majalah dinding pesantren. Dari situ, saya menemukan bahwa saya suka menulis dan berdiskusi.
Tahun ketiga, saya terpilih menjadi Ketua OSIS. Orang tua yang datang saat pelantikan tidak bisa menyembunyikan air mata mereka. Saya juga tidak bisa.