Dari Kampung Kecil Menuju Hafidz Al-Quran
"Saya datang dari desa kecil di Madura dengan modal nekat dan doa orang tua. Empat tahun kemudian, saya pulang sebagai hafidz 30 juz."
Nama saya Fauzan, asli dari Pamekasan, Madura. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Qurrota A'yun, saya masih berusia 13 tahun. Tas ransel lusuh, uang saku pas-pasan, dan hati yang campur aduk antara semangat dan takut.
Awal-awal sangat berat. Bangun jam 3 pagi, rutinitas yang ketat, jauh dari keluarga. Sering saya menangis di pojok kamar, ingin pulang. Tapi wajah Abi dan Umi yang melepas saya dengan linangan air mata selalu menguatkan langkah.
Yang membuat saya bertahan adalah suasana pesantren yang penuh barakah. Kyai dan ustadz bukan hanya mengajar, tetapi benar-benar membimbing. Teman-teman seperjalanan yang saling menyemangati. Dan Al-Quran, yang setiap hari saya hafal satu per satu ayatnya.
Empat tahun berlalu. Pada Wisuda Tahfidz ke-11, nama saya dipanggil. Saya maju, menangis sujud syukur. Tiga puluh juz selesai. Bukan karena saya pintar—tapi karena Allah memudahkan dan keluarga serta pesantren ini tidak pernah berhenti mendoakan.